Artikel EduMap

Viral Telur Mentah pada Bayi: Ini Penjelasan IDAI tentang Bahaya Praktik Tradisional yang Bisa Fatal

Viral Telur Mentah pada Bayi: Ini Penjelasan IDAI tentang Bahaya Praktik Tradisional yang Bisa Fatal

Rame-rame media sosial dihebohkan dengan kabar duka seorang bayi perempuan bernama Alena yangwafat di usia 28 hari. Awalnya, bayi ini dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya setelah diduga dicekoki telur mentah oleh neneknya demi menurunkan demam. Kasus ini memicu gelombang simpati, sekaligus pertanyaan besar dari publik: bagaimana bisa seorang nenek memberikan telur mentah pada cucunya yang baru berusia 24 hari?

Kasus ini bukan sekadar wabah informasi di media sosial. Kasus ini merupakan alarm serius tentang betapa masih luasnya kesenjangan literasi kesehatan di tengah masyarakat, khususnya seputarpemberian makanan bayi yang masih sering diturun-urunkan secara tradisional tanpa landasan ilmiah.

Apa yang Terjadi pada Bayi Alena?

Berdasarkan informasi yang dilansir dari berbagai sumber, bayi Alena awalnya mengalami demam. Tanpa sepengetahuan sang ibu, sang nenek memberinya asupan telur mentah dengan keyakinan bahwa hal tersebut ampuh menurunkan panas. Tidak lama kemudian, kondisi Alena memburuk. Ia sempat mengalami kejang dan harus masuk ke ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

Setelah tiga hari berjuang di rumah sakit, Alena menghembuskan napas terakhir pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026, pukul 07.10 WIB. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa penyebab pasti kematian belum dapat diungkapkan secara terbuka, namun masyarakat diminta untuk tidak terburu-buru menyimpulkan kausalitas langsung antara telur mentah dengan kondisi akhir pasien.

Perlu dipahami: Bayi berusia di bawah satu bulan secara medis disebut neonatus. Pada usia ini, satu-satunya asupan yang aman dan cukup bagi bayi adalah ASI eksklusif atau susu formula khusus neonatus. Pemberian makanan padat, air putih, madu, jamu, atau bahan apa pun selain itu — termasuk telur — adalah berisiko tinggi dan sebaiknya dihindari.

Posisi IDAI soal Kasus Ini

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Ketua Umumnya, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., telah merilis pernyataan resmi menanggapi kasus viral ini. Dalam keterangannya, IDAI menegaskan beberapa hal penting:

  • ASI Eksklusif 6 Bulan. Rekomendasi WHO dan IDAI tetap sama: berikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Pada masa ini, bayi tidak memerlukan tambahan makanan atau minuman apapun, termasuk air putih, jamu, atau telur.
  • Telur Mentah Berisiko Salmonella. Telur mentah atau setengah matang berpotensi mengandung bakteri Salmonella. Infeksi salmonelosis pada bayi bisa menimbulkan gejala diare berdarah, muntah, demam, hingga dehidrasi berat yang berujung syok.
  • Tidak Ada Nilai Gizi Lebih. IDAI menekankan bahwa telur mentah tidak memberikan keuntungan gizi yang bisa membenarkan risikonya. Sebaliknya, telur yang dimasak matang justru lebih mudah dicerna dan nutrisinya lebih tersedia bagi tubuh.
  • MPASI Dimulai Usia 6 Bulan. Makanan pendamping ASI (MPASI) baru diperkenalkan pada usia sekitar 6 bulan, bukan sebelum itu. MPASI harus disesuaikan dengan tekstur, porsi, dan keamanan pangan sesuai usia si kecil.

Kenapa Telur Mentah Berbahaya Khususnya untuk Bayi?

Bakteri Salmonella memang bisa mengontaminasi permukaan telur, bahkan saat cangkangnya masih utuh. Bakteri ini bisa menembus pori-pori cangkang dan bertahan hidup di dalam telur selama berminggu-minggu jika penyimpanan tidak ideal.

Bayi memiliki sistem imun yang sangat immature dibandingkan orang dewasa. Akibatnya, infeksi Salmonella pada neonatus dan bayi usia di bawah 6 bulan cenderung lebih parah, lebih cepat menyebar, dan berpotensi menyebabkan sepsis — kondisi darurat medis di mana respons infeksi tubuh meluas ke seluruh sistem peredaran darah.

Selain risiko bakteri, saluran cerna bayi neonatus belum siap menerima protein utuh dari telur. Enzim pencerna seperti protease masih belum optimal, sehingga pemberian protein kompleks berupa telur mentah dapat memicu iritasi mukosa usus, gangguan absorpsi, hingga inflamasi saluran cerna.

Mitos Penurun Panas yang Masih Berkecamuk

Fakta yang menyedihkan dari kasus ini adalah keyakinan tradisional bahwa telur mentah atau telur rebus setengah matang bisa menjadi "obat penurun panas" alami. Pandangan ini sebenarnya bukan hal baru — banyak generasi sebelumnya juga pernah mendengar nasihat serupa dari sesepuh keluarga.

Namun, tidak ada satupun bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Justru sebaliknya: telur mentah meningkatkan risiko infeksi, dan demam pada bayi neonatus harus segera dievaluasi oleh dokter karena bisa jadi pertanda infeksi bakteri maupun virus yang serius.

Yang Perlu Diketahui Orang Tua Baru

Kasus ini seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh calon orang tua dan pengasuh, khususnya generasi milenial dan Gen Z yang baru memiliki anak. Beberapa hal krusial yang perlu diingat:

  1. Asupan neonatus = ASI saja. Selama 6 bulan pertama, ASI adalah satu-satunya nutrisi yang bayi butuhkan. Tidak ada tambahan apapun.
  2. Demam pada bayi di bawah 3 bulan = gawat. Suhu tubuh above 38°C pada neonatus harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat, bukan diobati dengan ramuan.
  3. Telur harus dimasak matang. Bahkan setelah usia MPASI, telur yang diberikan kepada anak harus dimasak hingga kuning dan putihnya padat, bukan setengah matang.
  4. Sosialisasi kepada generasi tua. Seringkali, konflikpemberian makanan terjadi karena beda generasi. Orang tua baru sebaiknya menjelaskan rekomendasi medis dengan sopan, tapi tegas, kepada kakek-nenek yang ikut mengasuh.
  5. Percaya pada dokter, bukan tren. Media sosial dipenuhi kontenpemberian makanan yang belum tentu akurat. Konsultasikan segala keraguan kepada dokter anak.

Refleksi: Literasi Kesehatan adalah Benteng Pertama

Dr. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, menyebut bahwa kasus ini merupakan pengingat akan pentingnya literasi kesehatan di Indonesia. Pembangunan rumah sakit dan peningkatan jumlah dokter saja tidak cukup jika masyarakat tidak memiliki pemahaman dasar tentang perawatan anak yang tepat.

Program edukasi berbasis komunitas — lewat posyandu, puskesmas, dan kampanye digital — perlu diperkuat. Tujuannya agar informasi medis yang benar sampai ke tangan orang tua, pengasuh, dan lintas generasi sebelum kasus serupa terulang.

Kasus Alena sudah tiada. Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh orangtua dan pengasuh di Indonesia: setiap keputusanpemberian makanan adalah tanggung jawab besar, dan pilihan yang aman selalu didasarkan pada bukti ilmiah, bukan warisan mita belaka.